Heri Purwadyo Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, JAKARTA – Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim mengimbau para orang tua agar tidak ikut terpancing emosi atau tantrum saat mendampingi anak yang sedang mengalami tantrum, Kamis (8/10/2026).
Menurut Ratih, sikap orang tua yang ikut marah justru akan membuat tantrum anak semakin memburuk. Anak-anak akan meniru regulasi emosi dari orang tua mereka yang mengekspresikan kemarahan tersebut.
“Kalau anaknya lagi tantrum, apalagi di usia toddler, usia balita, ibunya jangan ikutan tantrum. Karena anak jadi belajar bahwa, ‘oh ini ternyata boleh kayak begini’, kalau ibunya tantrum,” ujar Ratih Ibrahim dalam sebuah diskusi di Jakarta.
“Jadi kalau ibunya tantrum, anaknya jadi makin tantrum. Anak akan belajar bahwa emotional regulation-nya jadi persis kayak ibunya,” tambah anggota Tim Ahli Program Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan tersebut.
Dibandingkan meluapkan amarah, orang tua disarankan untuk membantu anak memahami serta mengidentifikasi perasaan negatif yang sedang mereka alami. Orang tua dapat memberikan respons menenangkan dengan menyatakan pemahaman terhadap rasa kesal yang dirasakan sang anak.
“Iya mama ngerti, ibu ngerti ya kamu kesal.”
Langkah penanganan ini dapat menumbuhkan kesadaran pada anak bahwa emosi negatif merupakan hal yang normal terjadi dan mereka tetap mendapatkan kasih sayang. Orang tua juga perlu menetapkan batasan yang jelas agar anak tidak meluapkan emosi dengan cara merusak lingkungan sekitar.
Ratih juga menyoroti kebiasaan orang tua yang kerap menyalahkan benda mati saat anak terluka atau jatuh. Tindakan ini dinilai tidak mendidik karena menghalangi anak belajar memahami emosinya secara wajar.
“Dari situ anak justru jadi tidak belajar, tidak ada self awareness, pemahaman bahwa ini adalah emosi yang biasa saja,” kata Ratih.
Pelatihan untuk mengenali perasaan dan membangun kecerdasan emosional sejak dini sangat krusial bagi anak agar tumbuh menjadi pribadi adaptif yang tangguh. Anak dengan kecerdasan emosional yang rendah memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan mental.
Berdasarkan data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey pada tahun 2022, satu dari tiga remaja berusia 10 hingga 17 tahun terdeteksi mengalami masalah kesehatan mental.
Masalah kesehatan mental yang paling dominan di kalangan remaja adalah gangguan cemas, yang meliputi gabungan fobia sosial dan kecemasan menyeluruh.
Gangguan depresi mayor serta masalah perilaku menjadi gangguan mental berikutnya yang paling banyak diderita oleh remaja Indonesia. Untuk mencegah hal tersebut, orang tua didorong aktif mengajarkan regulasi emosi dan memberikan teladan pengendalian diri yang baik sejak usia dini.
Sumber:
- https://www.antaranews.com/berita/5777466/psikolog-orang-tua-jangan-ikut-tantrum-saat-anak-tantrum








