Rabu, 26 Agustus 2026
Hot

Gaya Hidup Seimbang ala Raline Shah, Tetap Aktif Tanpa Harus Tersiksa Diet Ketat

Raline Shah berbagi filosofi gaya hidup sehatnya yang mengedepankan keseimbangan antara olahraga konsisten dan pola makan fleksibel, tanpa perlu diet ketat. Ia menekankan pentingnya menikmati hidup dan menghindari rasa bersalah atas makanan.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS – Bagi Raline Shah, menjaga kebugaran bukan tentang hidup dengan sederet larangan. Ia memilih pendekatan yang lebih fleksibel: tetap aktif berolahraga, menikmati makanan dalam porsi wajar, menyesuaikan pola makan ketika bepergian, dan tidak membiarkan rasa bersalah mengambil alih kenikmatan hidup.

Gaya hidup sehat sering digambarkan melalui sederet aturan: makanan tertentu harus dihindari, olahraga harus dilakukan dengan disiplin tinggi, dan tubuh seolah selalu dituntut memenuhi standar tertentu.

Raline Shah memilih pendekatan yang berbeda.

Bagi aktris tersebut, menjaga diri justru berkaitan dengan keseimbangan antara kesehatan fisik dan kondisi mental. Alih-alih menerapkan diet ekstrem atau pantangan yang membuat hidup terasa semakin berat, Raline menjalani rutinitas yang lebih fleksibel dan realistis.

Article ad in the middle of article

Pendekatan itu terlihat dari caranya mengatur makanan, berolahraga, hingga beradaptasi ketika sedang bepergian.

Makan Sehat Tanpa Membuat Hidup Penuh Larangan

Dalam kesehariannya, Raline memberi perhatian pada makanan alami dan berusaha meminimalkan konsumsi makanan yang melalui pemrosesan berlebihan. Namun, pendekatan tersebut tidak membuatnya menutup diri dari makanan yang ia sukai.

Sebagai perempuan berdarah Medan, Raline mengaku tetap menyukai berbagai makanan seperti Soto Medan, Sate Padang, hingga Nasi Padang. Ia tidak menjadikan makanan tersebut sebagai sesuatu yang sepenuhnya terlarang.

Baginya, kuncinya terletak pada porsi dan keseimbangan.

Jika sedang menikmati makanan yang lebih berminyak, misalnya, Raline memilih mengurangi porsinya dan memperbanyak sayuran. Pendekatan tersebut membuat makanan tetap dapat dinikmati tanpa harus menciptakan aturan yang terlalu kaku.

Tak Ingin Makanan Menjadi Sumber Stres

Ada alasan lain mengapa Raline tidak menyukai terlalu banyak larangan dalam urusan makanan.

Ia memandang makanan juga sebagai bagian dari kenyamanan. Terlebih ketika sedang traveling dengan mobilitas yang tinggi, Raline tidak ingin tekanan perjalanan bertambah hanya karena dirinya terlalu keras membatasi apa yang boleh dan tidak boleh dimakan.

Karena itu, ia memilih menjaga keseimbangan melalui olahraga dan pengaturan porsi.

Pendekatan tersebut menghadirkan perspektif yang lebih ringan terhadap gaya hidup sehat. Makanan tidak selalu perlu ditempatkan sebagai “baik” atau “buruk” secara mutlak dalam keseharian. Yang lebih penting adalah melihat pola secara keseluruhan dan memahami batas diri.

Tidak Membawa Rasa Bersalah ke Meja Makan

Raline juga menyoroti satu hal yang sering menyertai hubungan seseorang dengan makanan: rasa bersalah.

Menurutnya, setelah menikmati sesuatu yang dianggap kurang sehat, seseorang tidak perlu memperburuk pengalaman tersebut dengan terus-menerus merasa bersalah atau negatif. Ia menekankan bahwa kebahagiaan dan kondisi mental tetap memiliki tempat dalam gaya hidup sehat.

Cara pandang ini membuat rutinitasnya terasa tidak berpusat pada kesempurnaan.

Ada ruang untuk menikmati makanan. Ada ruang untuk menyesuaikan kembali porsinya. Dan ada pula ruang untuk melanjutkan rutinitas tanpa harus menjadikan satu pilihan makanan sebagai alasan untuk menyalahkan diri sendiri.

Fleksibel Saat Traveling

Kebiasaan Raline juga tidak dibuat terlalu bergantung pada satu jenis makanan.

Ketika bepergian ke Eropa dan lebih sulit menemukan nasi sebagai sumber karbohidrat utama, misalnya, ia memilih menggantinya dengan sumber karbohidrat lain yang tersedia.

Fleksibilitas seperti ini membuat pola hidup lebih mudah dibawa ke berbagai situasi.

Traveling tidak harus membuat seseorang cemas karena menu sehari-hari berbeda dari kebiasaan di rumah. Sebaliknya, perjalanan dapat menjadi kesempatan untuk beradaptasi dengan makanan yang tersedia sambil tetap memperhatikan keseimbangan asupan.

Santai soal Makanan, Disiplin soal Bergerak

Jika pendekatannya terhadap makanan cenderung fleksibel, Raline justru cukup konsisten dalam urusan aktivitas fisik.

Ia menjadwalkan latihan beban sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu. Untuk aktivitas kardio atau aerobik, ia biasa melakukan jalan kaki atau berenang selama sekitar 30–45 menit pada pagi hari.

Kesibukan dan perjalanan juga tidak selalu membuat kebiasaan tersebut berhenti.

Saat menginap di hotel, misalnya, Raline mengatakan dirinya tetap dapat menyempatkan sekitar 20 menit berjalan dengan incline di treadmill.

Rutinitas tersebut menunjukkan bahwa konsistensi tidak selalu membutuhkan kondisi sempurna.

Tidak memiliki akses pada rutinitas biasa bukan berarti seluruh kebiasaan harus ditinggalkan. Kadang, yang diperlukan hanyalah menyesuaikan bentuk aktivitas dengan tempat dan waktu yang tersedia.

Olahraga sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Raline juga terlihat aktif bermain padel dalam sebuah acara di Jakarta pada Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali membawa pesan mengenai pentingnya menjaga tubuh melalui aktivitas fisik dan pola hidup yang konsisten.

Hal tersebut memperlihatkan bagaimana olahraga tidak hanya hadir sebagai agenda khusus untuk mencapai bentuk tubuh tertentu.

Aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari keseharian—sesuatu yang dilakukan karena tubuh terbiasa bergerak dan karena aktivitas tersebut memang dinikmati.

Pendekatan seperti ini membuat olahraga terasa lebih dekat dengan konsep gaya hidup daripada sebuah “program” sementara.

Menyesuaikan Rutinitas dengan Kehidupan Nyata

Salah satu hal menarik dari pendekatan Raline adalah fleksibilitasnya.

Ia tidak terlihat membangun rutinitas yang hanya bisa dilakukan ketika semua kondisi ideal.

Ketika nasi tidak tersedia, ia memilih sumber karbohidrat lain. Ketika berada di hotel, durasi olahraga dapat disesuaikan. Ketika ingin menikmati makanan favorit, fokusnya beralih pada porsi dan keseimbangan.

Pendekatan tersebut membuat gaya hidup sehat terasa lebih realistis.

Sebab dalam kehidupan sehari-hari, jadwal dapat berubah. Perjalanan terjadi. Undangan makan datang. Ada hari yang lebih sibuk dibandingkan hari lainnya.

Rutinitas yang terlalu kaku justru dapat menjadi sulit dipertahankan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana.

Perawatan Diri Juga Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Raline turut mengaitkan kondisi kulit dengan kesehatan tubuh secara lebih luas. Pengalamannya menghadapi jerawat ketika pubertas membuatnya semakin memperhatikan kebiasaan hidup dan asupan sehari-hari.

Dalam rutinitasnya, ia mengutamakan makanan alami dan menggunakan beberapa suplemen sebagai pelengkap. Pernyataan mengenai manfaat suplemen tersebut merupakan pengalaman pribadi Raline dan tidak otomatis menjadi rekomendasi yang berlaku bagi setiap orang.

Dari perspektif lifestyle, bagian yang lebih menarik justru terletak pada konsistensinya merawat diri dari berbagai sisi.

Perawatan tubuh tidak hanya diterjemahkan melalui produk yang digunakan dari luar, tetapi juga melalui makanan, aktivitas fisik, dan rutinitas sehari-hari.

Sehat Tidak Harus Berarti Sempurna

Gaya hidup Raline memberikan satu perspektif yang relevan di tengah tren wellness yang sering berubah menjadi tuntutan baru.

Menjaga diri tidak berarti setiap makanan harus sempurna.

Olahraga tidak harus selalu berlangsung selama berjam-jam.

Dan perjalanan tidak harus membuat seseorang kehilangan seluruh rutinitas yang sudah dibangun.

Yang lebih realistis adalah menemukan pola yang cukup fleksibel untuk tetap dijalani dalam berbagai situasi.

Menikmati Hidup Tetap Menjadi Bagian dari Keseimbangan

Ada satu benang merah yang cukup jelas dari cara Raline Shah menjalani kesehariannya: kesehatan tidak dipisahkan dari kebahagiaan.

Ia tetap menikmati makanan favorit, tetapi memahami porsi. Ia menjalani olahraga secara konsisten, tetapi mampu menyesuaikannya dengan perjalanan. Ia memperhatikan asupan, tanpa menjadikan makanan sebagai sumber rasa bersalah.

Pendekatan tersebut membuat konsep hidup sehat terasa lebih membumi.

Tidak selalu diperlukan diet ekstrem atau aturan yang membuat hari-hari terasa penuh tekanan.

Terkadang, keseimbangan justru hadir dari kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan berulang kali: bergerak secara konsisten, menikmati makanan dengan kesadaran, memberi tubuh asupan yang baik, dan tetap menyediakan ruang untuk menikmati hidup tanpa terus-menerus merasa bersalah.

Article ad after last paragraph