HARIANEXPRESS, DENPASAR – Bisnis pusat kebugaran atau gym di Bali dinilai memiliki prospek yang cerah, didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat. Tren ini juga memicu pertumbuhan industri wellness lainnya seperti yoga, spa, pilates, dan olahraga padel.
Pemilik Fitness Plus yang memiliki cabang di Canggu, Mahendradatta, Sesetan, dan Singaraja, Ananta Wijaya, menyatakan tren bisnis wellness meningkat sejak pandemi Covid-19 pada Kamis (23/7/2026). Hal ini mendorongnya melakukan diversifikasi usaha dari sektor properti ke bisnis pusat kebugaran.
Ananta membuka Fitness Plus pertama di Canggu pada 2021, saat bisnis properti mengalami penurunan signifikan. Ia melihat adanya tren kenaikan pada bisnis gaya hidup dan wellness.
“Awal mula saya membuka bisnis gym pada 2021 saat pandemi Covid-19. Ketika itu bisnis properti mengalami penurunan, sehingga kami berpikir melakukan diversifikasi usaha. Kami melihat bisnis lifestyle dan wellness sedang mengalami tren kenaikan,” ujar Ananta Wijaya.
Peluang bisnis wellness dinilai masih sangat baik, tidak hanya untuk gym tetapi juga layanan kesehatan berbasis gaya hidup lainnya. Ananta Wijaya menjelaskan bahwa bisnis ini memang sedang bertumbuh, ditunjukkan dari perkembangan spa, yoga, pilates, hingga padel.
Bisnis gym memerlukan investasi awal yang cukup besar, terutama untuk pengadaan peralatan olahraga dan fasilitas penunjang. Fitness Plus mengusung konsep mega gym dengan luas bangunan minimal 1.000 meter persegi, di mana tiga cabangnya bahkan memiliki luas lebih dari 1.400 meter persegi.
Investasi peralatan untuk satu gym diperkirakan mencapai sekitar Rp3 miliar. Contohnya, satu alat komersial seperti smith machine dapat bernilai sekitar Rp50 juta.
Meskipun modal yang dibutuhkan besar, Ananta memperkirakan pengembalian investasi (ROI) dapat dicapai dalam waktu sekitar empat hingga lima tahun. Target ini berhasil tercapai di cabang Mahendradatta, yang dibuka pada 2021, karena minimnya pesaing dengan konsep serupa saat itu.
Kondisi berbeda dihadapi cabang Sesetan yang mulai beroperasi pada 2024, dengan jumlah gym yang jauh lebih banyak di Denpasar sehingga persaingan meningkat. Sementara itu, di Singaraja, tantangannya lebih banyak berasal dari perbedaan daya beli masyarakat dibandingkan Denpasar.
Berbeda dengan bisnis properti yang mengandalkan penjualan aset, bisnis gym mengandalkan pendapatan berulang (recurring income) dari biaya keanggotaan. Fitness Plus lebih fokus menjual paket keanggotaan tahunan mulai dari Rp3,5 juta, atau kurang dari Rp300 ribu per bulan, dibandingkan paket bulanan yang dikenakan Rp1 juta.
Ananta mengakui bahwa persaingan yang semakin ketat di Denpasar dan Badung dalam dua tahun terakhir merupakan tantangan terbesar industri ini. Oleh karena itu, pelaku usaha harus memiliki nilai tambah untuk mempertahankan pelanggan.
“Persaingan memang semakin ketat. Karena itu kami harus memberikan nilai tambah supaya member tetap memilih berolahraga di tempat kami,” katanya.
Meskipun demikian, Ananta tetap optimistis prospek bisnis gym masih positif. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan akan terus menopang pertumbuhan industri kebugaran dalam beberapa tahun ke depan.
